Dia akan menerima masa lalumu dan tidak pernah mengungkitnya meskipun masa lalumu sangat hina dan memalukan, dia tetap
menghormatimu dan tidak pernah mengungkitnya meski
dalam keadaan marah
terhadapmu.
Jika kamu salah, dia akan menasehatimu dengan lembut dan berusaha tidak menyinggung perasaanmu.
Jika kamu menangis, dia akan sabar menunggumu untuk menghiburmu agar kembali tersenyum dan tidak lantas pergi
meninggalkanmu dalam
perasaan kecewa.
Dia tidak akan memaksa kamu untuk menjadi seperti yang dia
mau tapi dia akan menasehatimu dengan perlahan sehingga kamu
rela dan ikhlas menjadi yang dia mau tanpa dipaksa,pun dia terhadapmu.
Dia tidak ingin membuatmu resah,jika dia pergi kemanapun
dia berusaha untuk memberimu kabar meski kamu tidak menanyakannya.
Dia akan selalu perhatian
terhadapmu meski kamu kurang perhatian.
Dan tidak akan pernah
membuatmu merengek minta diperhatikan karena perhatiannya terhadapmu bagaikan lautan kasih sayang yang tidak akan pernah ada habisnya meski engkau mencoba untuk menguras semua kesabarannya.
Jatuh cinta itu untuk siapa pun.
Tapi untuk tetap setia....
Hanya untuk jiwa yang anggun dan berkelas..
Wanita yang baik bagi laki-laki yang baik, dan sebaliknya.
Maka janganlah memilih yang tidak sesuai bagimu.
Jodoh itu banyak pilihannya.
Pilih satu yang terbaik, jika sudah diberi - bahagiakanlah dia dan setialah..
Semoga ALLAH segera
mempertemukan kita dengan jodoh terbaik pilihanNYA yg shaleh/ shalehah serta mencintai kita dengan tulus &apa adanya..
Aamiin .....
Jumat, 13 Juni 2014
Rabu, 11 Juni 2014
BEBERAPA AKHLAK MULIA SEORANG ISTRI KEPADA SUAMI
BISMILLAHIRROHMANIRROHIIM..
1. Menyikapi keburukan akhlak dan perangai suaminya dengan penuh kesabaran.
2. Tidak bahagia jika melihat suaminya sedih, dan tidak sedih ketika suaminya gembira.
3. Yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata yang baik, sebagai pengamalan terhadap firman Allah SWT, “Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah [2]: 83)
4. Tidak membalas tindakan buruk suaminya dengan keburukan serupa, tetapi membalasnya dengan kebaikan, karena mengaharapkan pahala-Nya. Karena baginya, sesuatu yang di sisi Allah SWT lebih baik dan lebih abadi.
5. Bersegera mencari keridhaannya. Jika suaminya marah, dia tidak menunggu suaminya menyapa lebih dahulu, karena dia mengamalkan sabda Rasulullah SAW,
وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُوْدُ الوَلُوْدُ الْعَئُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا, الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَائَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى.
“Dan istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga adalah yang penyayang, banyak melahirkan anak, dan segera kembali pada suaminya. Yaitu jika suaminya marah, dia mendatanginya dengan meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya berkata,
“Saya tidak bisa tidur nyenyak sampai engkau ridha.”
Alangkah indahnya seorang wanita yang berakhlak baik, yang mengukur dunia dan seisinya dengan akhlaknya.
Alangkah indahnya seorang wanita lemah lembut dan tenang, yang patuh pada Tuhan dan suaminya.
Alangkah indahnya seorang wanita rendah hati, yang hatinya tidak tersentuh rasa sombong, ujub, dan pengkhianatan.
Alangkah indahnya seorang wanita rendah hati, yang memiliki suara lembut.
Alangkah indahnya seorang wanita yang selalu berbaik sangka terhadap suaminya.
Alangkah indahnya seorang wanita yang jika mendengar suatu perkataan dan perbuatan, akan miningkatkan rasa takutnya kepada Allah SWT.
"SUBHANALLAH"
1. Menyikapi keburukan akhlak dan perangai suaminya dengan penuh kesabaran.
2. Tidak bahagia jika melihat suaminya sedih, dan tidak sedih ketika suaminya gembira.
3. Yang keluar dari mulutnya hanya kata-kata yang baik, sebagai pengamalan terhadap firman Allah SWT, “Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia” (QS. Al-Baqarah [2]: 83)
4. Tidak membalas tindakan buruk suaminya dengan keburukan serupa, tetapi membalasnya dengan kebaikan, karena mengaharapkan pahala-Nya. Karena baginya, sesuatu yang di sisi Allah SWT lebih baik dan lebih abadi.
5. Bersegera mencari keridhaannya. Jika suaminya marah, dia tidak menunggu suaminya menyapa lebih dahulu, karena dia mengamalkan sabda Rasulullah SAW,
وَنِسَاؤُكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُوْدُ الوَلُوْدُ الْعَئُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا, الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَائَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى.
“Dan istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga adalah yang penyayang, banyak melahirkan anak, dan segera kembali pada suaminya. Yaitu jika suaminya marah, dia mendatanginya dengan meletakkan tangannya di tangan suaminya seraya berkata,
“Saya tidak bisa tidur nyenyak sampai engkau ridha.”
Alangkah indahnya seorang wanita yang berakhlak baik, yang mengukur dunia dan seisinya dengan akhlaknya.
Alangkah indahnya seorang wanita lemah lembut dan tenang, yang patuh pada Tuhan dan suaminya.
Alangkah indahnya seorang wanita rendah hati, yang hatinya tidak tersentuh rasa sombong, ujub, dan pengkhianatan.
Alangkah indahnya seorang wanita rendah hati, yang memiliki suara lembut.
Alangkah indahnya seorang wanita yang selalu berbaik sangka terhadap suaminya.
Alangkah indahnya seorang wanita yang jika mendengar suatu perkataan dan perbuatan, akan miningkatkan rasa takutnya kepada Allah SWT.
"SUBHANALLAH"
Kamis, 05 Juni 2014
Pertanggungjawaban suami atas istrinya di akhirat
Hidup itu memang penuh dengan pemahaman yang berbeda-beda. Dulu aku pernah mengenal seorang laki-laki tidak mau memberi mas kawin peralatan sholat alasannya tidak mau menanggung beban kalau istrinya tidak sholat dia mempertanggungjawabkan itu semua.
Dari yang aku dengar ceramah dari seorang ustad, mau dengan mas kawin apa saja, seorang suami mempertanggungjawabkan semua perbuatan istrinya di akhirat. Bila kita memang ingin selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita, takut pada Allah, maka kita akan selalu hati-hati dalam bertindak.
Seorang istri bisa menjadikan suaminya masuk surga atau sebaliknya malah masuk neraka. Tapi hidup itu bukan sekedar takut pada surga neraka, kita mengharap ridho Allah, mendekatkan diri pada Allah, tahu Allah mengawasi kita, berusaha menjaga perilaku kita.
Seorang suami yang mempunyai istri melakukan maksiat, memang bagi yang benar-benar menjalankan ketentuan Allah, harus mengingatkan. Istri masih ndableg, pisah kamar. Lalu setelah itu disentil (atau pukul dengan siwak). Masih bandel juga, lepaskan, ceraikan. Memang bercerai adalah hal yang dibenci Allah, tapi bila istri bermaksiat dan sudah ditegur tidak mau menurut, lebih baik mengamputasi bagian tubuh yang sakit.
Tapi seorang istri mesti selalu menuruti suami, kecuali suami mengajak maksiat. Ridho Allah adalah ridho suami, selama suami memang mengajarkan kebaikan. Bila seorang suami bersikap kurang menyenangkan, selama tidak membuat istri sampai sakit karena pukulan atau depresi, istri mesti memperjuangkan untuk merawat suami dan mengingatkan ke jalan yang benar. Istri yang bisa mengajak suaminya untuk lebih beriman akan masuk surga lebih dulu daripada suami.
Beberapa lak-lakii telpon aku ngajak diskusi soal polygami (bahkan mau menjadikan aku istri ke-sekian). Bagi laki-laki yang benar-benar beriman dan takut pada Allah, akan berpikir panjaaaang sebelum melakukan polygami. Pertanggung jawaban pada satu istri saja sudah berat, masih mau nanggung pertanggung jawaban lagi. Di padang mahsyar laki-laki yang melakukan polygami dan tidak adil, jalannya miring, itu karena dosa dari mendzalimi pada salah satu istri.
Di Al Quran, sebetulnya lebih menyarankan laki-laki menikah satu saja. Tapi ada saja yang berusaha meyakinkan ke aku, dia pendukung polygami karena Al Qur'an mendukung polygami. Terserah pemahaman seperti itu, tapi bila ada orang yang mempermainkan ayat-ayat Al Qur'an, betapa berat pertanggung jawabannya di akhirat. Laki-laki yang di otaknya berangan-angan pengen punya istri banyak, kalo bosen dengan istri satunya bisa dengan istri yang lain, biasanya memang mengada-ada.
Gak sekali dua kali aku ditelponin laki-laki yang otaknya sibuk dengan kegelisahan pengen polygami. Katanya kalo darurat ya boleh nikah diam-diam, nikah siri, ngomong pada istri pertama nyusul. Kayaknya kepengen banget itu menyakitkan, udah gak bisa berpikir sehat, dan pemahaman ayat Qur'an dan hadits diambil sepotong-sepotong diterjemahkan semaunya untuk kepentingan sendiri.
Misalnya polygami katanya sunnah Rasul, emang mau nikah dengan janda tua dan miskin, dan disetujui istri pertama? Niat nikah polygami jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lagi bukan kepuasan sexual semata, tapi membantu yang sedang kesulitan. Biasalah orang kebanyakan mengejar kepuasan dunia. Tidak sanggup menjaga kemaluan dengan berangan-angan panjang. Hidup itu sebaiknya mengejar akhirat, dunia akan mengikuti. Laki-laki, sibukkan dengan beramal sholeh, bukan dengan berangan-angan kawin lagi.....
semoga bermanfaat ..
Amin,,,
Dari yang aku dengar ceramah dari seorang ustad, mau dengan mas kawin apa saja, seorang suami mempertanggungjawabkan semua perbuatan istrinya di akhirat. Bila kita memang ingin selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita, takut pada Allah, maka kita akan selalu hati-hati dalam bertindak.
Seorang istri bisa menjadikan suaminya masuk surga atau sebaliknya malah masuk neraka. Tapi hidup itu bukan sekedar takut pada surga neraka, kita mengharap ridho Allah, mendekatkan diri pada Allah, tahu Allah mengawasi kita, berusaha menjaga perilaku kita.
Seorang suami yang mempunyai istri melakukan maksiat, memang bagi yang benar-benar menjalankan ketentuan Allah, harus mengingatkan. Istri masih ndableg, pisah kamar. Lalu setelah itu disentil (atau pukul dengan siwak). Masih bandel juga, lepaskan, ceraikan. Memang bercerai adalah hal yang dibenci Allah, tapi bila istri bermaksiat dan sudah ditegur tidak mau menurut, lebih baik mengamputasi bagian tubuh yang sakit.
Tapi seorang istri mesti selalu menuruti suami, kecuali suami mengajak maksiat. Ridho Allah adalah ridho suami, selama suami memang mengajarkan kebaikan. Bila seorang suami bersikap kurang menyenangkan, selama tidak membuat istri sampai sakit karena pukulan atau depresi, istri mesti memperjuangkan untuk merawat suami dan mengingatkan ke jalan yang benar. Istri yang bisa mengajak suaminya untuk lebih beriman akan masuk surga lebih dulu daripada suami.
Beberapa lak-lakii telpon aku ngajak diskusi soal polygami (bahkan mau menjadikan aku istri ke-sekian). Bagi laki-laki yang benar-benar beriman dan takut pada Allah, akan berpikir panjaaaang sebelum melakukan polygami. Pertanggung jawaban pada satu istri saja sudah berat, masih mau nanggung pertanggung jawaban lagi. Di padang mahsyar laki-laki yang melakukan polygami dan tidak adil, jalannya miring, itu karena dosa dari mendzalimi pada salah satu istri.
Di Al Quran, sebetulnya lebih menyarankan laki-laki menikah satu saja. Tapi ada saja yang berusaha meyakinkan ke aku, dia pendukung polygami karena Al Qur'an mendukung polygami. Terserah pemahaman seperti itu, tapi bila ada orang yang mempermainkan ayat-ayat Al Qur'an, betapa berat pertanggung jawabannya di akhirat. Laki-laki yang di otaknya berangan-angan pengen punya istri banyak, kalo bosen dengan istri satunya bisa dengan istri yang lain, biasanya memang mengada-ada.
Gak sekali dua kali aku ditelponin laki-laki yang otaknya sibuk dengan kegelisahan pengen polygami. Katanya kalo darurat ya boleh nikah diam-diam, nikah siri, ngomong pada istri pertama nyusul. Kayaknya kepengen banget itu menyakitkan, udah gak bisa berpikir sehat, dan pemahaman ayat Qur'an dan hadits diambil sepotong-sepotong diterjemahkan semaunya untuk kepentingan sendiri.
Misalnya polygami katanya sunnah Rasul, emang mau nikah dengan janda tua dan miskin, dan disetujui istri pertama? Niat nikah polygami jaman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lagi bukan kepuasan sexual semata, tapi membantu yang sedang kesulitan. Biasalah orang kebanyakan mengejar kepuasan dunia. Tidak sanggup menjaga kemaluan dengan berangan-angan panjang. Hidup itu sebaiknya mengejar akhirat, dunia akan mengikuti. Laki-laki, sibukkan dengan beramal sholeh, bukan dengan berangan-angan kawin lagi.....
semoga bermanfaat ..
Amin,,,
Selasa, 03 Juni 2014
Waktu Paling Tepat Minum Air Putih dan Manfaatnya
Air putih memiliki peranan yang sangat penting, salah satunya sebagai penetralisir racun yang mengendap pada tubuh kita.Tapi tahukah Anda, ternyata ada waktu yang paling tepat minum air putih agar badan tetap fit dan fresh. Minum air putih akan sangat bermanfaat pada waktu-waktu berikut:
1. Setelah Bangun Tidur - Minumlah setidaknya 2 gelas air putih saat baru bangun dari tidur, karena waktu ini bermanfaat untuk membantu organ-organ tubuh internal agar lebih aktif.
2. 30 Menit Sebelum Makan – Minumlah segelas air putih pada waktu ini karena dapat bermanfaat membantu pencernaan & ginjal bekerja lebih optimal.
3. 20-30 menit Setelah makan – Segelas air putih 20-30 menit setelah makan akan memperlancar proses pencernaan makanan.jika sobat setelah makan ingin minum air putih cukup satu sampai dua teguk dulu sebagai pernghilang rasa haus.
4. Sebelum Mandi – Minumlah segelas air putih karena bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah
5. Sebelum Tidur – Minumlah segelas air putih pada waktu ini karena sangat bermanfaat untuk menghindari stroke atau serangan jantung.
1. Setelah Bangun Tidur - Minumlah setidaknya 2 gelas air putih saat baru bangun dari tidur, karena waktu ini bermanfaat untuk membantu organ-organ tubuh internal agar lebih aktif.
2. 30 Menit Sebelum Makan – Minumlah segelas air putih pada waktu ini karena dapat bermanfaat membantu pencernaan & ginjal bekerja lebih optimal.
3. 20-30 menit Setelah makan – Segelas air putih 20-30 menit setelah makan akan memperlancar proses pencernaan makanan.jika sobat setelah makan ingin minum air putih cukup satu sampai dua teguk dulu sebagai pernghilang rasa haus.
4. Sebelum Mandi – Minumlah segelas air putih karena bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah
5. Sebelum Tidur – Minumlah segelas air putih pada waktu ini karena sangat bermanfaat untuk menghindari stroke atau serangan jantung.
Di Akhirat Nanti ada 4 Golongan Lelaki yg akan Di Tarik Masuk ke Neraka oleh Wanita.
Di Akhirat Nanti ada 4 Golongan Lelaki yg akan Di Tarik Masuk ke Neraka oleh Wanita.
Lelaki itu adalah mereka yg tdk memberikan hak kpd Wanita yg tdk menjaga amanah itu.
1. AYAHNYA
Jika seseorang yg bergelar AYAH tdk memperdulikan anak perempuannya di dunia dia tdk memberikan segala keperluan agama seperti mengajarkan sholat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak perempuannya tdk menutup aurat, tdk cukup hanya dgn memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan di tarik ke neraka oleh anaknya.
Duhai lelaki yg bergelar AYAH, bagaimanakah keadaan anak perempuan mu sekarang ? Apakah KAU mengajarkan Ilmu Pengetahuan Agama padanya ?
2. SUAMINYA
Apabila suami tdk mempedulikan tindak tanduk istrinya, bergaul bebas dan membiarkan istri berhias diri utk lelaki yg bukan muhrimnya. Walau pun suami orang yg alim, sholatnya rajin, shaumnya yg tak pernah bolong. Maka dia akan turut di tarik istrinya ke dalam Neraka.
Duhai lelaki yg bergelar SUAMI, bagaimanakah keadaan istri tercinta sekarang ?
Bagaimanakah akhlaknya ?
3. SAUDARA LELAKINYA
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggung jawab menjaga kehormatan wanita jatuh pada saudara lelakinya ( Kakak / Paman ) . Jika mereka hanya mementingkan keadaan keluarganya saja, sedangkan adik atau keponakannya di biarkan melenceng dari ajaran Islam. Maka tunggulah tarikan mereka di akhirat kelak.
Duhai LELAKI yg mempunyai saudara perempuan, jangan hanya KAU menjaga amal mu dan melupakan amanah yg lain, karna KAU jg akan pertanggung jawabkan di akhirat kelak.
4. ANAK LELAKINYA
Apabila seorang ANAK LAKI-LAKI tdk menasihati IBUNYA perihal kelakuan yg tdk di benarkan dalam ajaran agama Islam, bila sang Ibu membuat kemungkaran, mengumpat, memfitnah atau menghujat. Maka anak itu akan di tanya dan di mintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.
Duhai ANAK LELAKI, sayangilah IBU mu, nasihatilah dia jika bersalah. Karna seorang Ibu jg hanya insan biasa yg tak lepas melakukan dosa . Selamatkanlah dia dari ancaman NERAKA jika tdk, KAU pun akan di tarik menjadi tmn di dalamnya.
Sungguh Allah SWT telah berfirman, " Wahai Nabi ! Katakanlah kpd istri-istri mu, anak-anak perempuan mu, dan istri-istri orang mukmin," Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." yg demikian itu agar mereka mudah di kenali , sehingga mereka tdk di ganggu. Dan Allah Maha Pengampun , Maha Penyayang. "
( QS.AL-AHZAB : 59 ).
Lelaki itu adalah mereka yg tdk memberikan hak kpd Wanita yg tdk menjaga amanah itu.
1. AYAHNYA
Jika seseorang yg bergelar AYAH tdk memperdulikan anak perempuannya di dunia dia tdk memberikan segala keperluan agama seperti mengajarkan sholat, mengaji dan sebagainya. Dia membiarkan anak perempuannya tdk menutup aurat, tdk cukup hanya dgn memberi kemewahan dunia saja. Maka dia akan di tarik ke neraka oleh anaknya.
Duhai lelaki yg bergelar AYAH, bagaimanakah keadaan anak perempuan mu sekarang ? Apakah KAU mengajarkan Ilmu Pengetahuan Agama padanya ?
2. SUAMINYA
Apabila suami tdk mempedulikan tindak tanduk istrinya, bergaul bebas dan membiarkan istri berhias diri utk lelaki yg bukan muhrimnya. Walau pun suami orang yg alim, sholatnya rajin, shaumnya yg tak pernah bolong. Maka dia akan turut di tarik istrinya ke dalam Neraka.
Duhai lelaki yg bergelar SUAMI, bagaimanakah keadaan istri tercinta sekarang ?
Bagaimanakah akhlaknya ?
3. SAUDARA LELAKINYA
Apabila ayahnya sudah tiada, tanggung jawab menjaga kehormatan wanita jatuh pada saudara lelakinya ( Kakak / Paman ) . Jika mereka hanya mementingkan keadaan keluarganya saja, sedangkan adik atau keponakannya di biarkan melenceng dari ajaran Islam. Maka tunggulah tarikan mereka di akhirat kelak.
Duhai LELAKI yg mempunyai saudara perempuan, jangan hanya KAU menjaga amal mu dan melupakan amanah yg lain, karna KAU jg akan pertanggung jawabkan di akhirat kelak.
4. ANAK LELAKINYA
Apabila seorang ANAK LAKI-LAKI tdk menasihati IBUNYA perihal kelakuan yg tdk di benarkan dalam ajaran agama Islam, bila sang Ibu membuat kemungkaran, mengumpat, memfitnah atau menghujat. Maka anak itu akan di tanya dan di mintai pertanggung jawaban di akhirat kelak.
Duhai ANAK LELAKI, sayangilah IBU mu, nasihatilah dia jika bersalah. Karna seorang Ibu jg hanya insan biasa yg tak lepas melakukan dosa . Selamatkanlah dia dari ancaman NERAKA jika tdk, KAU pun akan di tarik menjadi tmn di dalamnya.
Sungguh Allah SWT telah berfirman, " Wahai Nabi ! Katakanlah kpd istri-istri mu, anak-anak perempuan mu, dan istri-istri orang mukmin," Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." yg demikian itu agar mereka mudah di kenali , sehingga mereka tdk di ganggu. Dan Allah Maha Pengampun , Maha Penyayang. "
( QS.AL-AHZAB : 59 ).
Senin, 02 Juni 2014
Ikhlas Adalah Rahasia
Di sebalik kejayaan setiap amal manusia. Penyelamat hati manusia.Menuju kebahagian yang hakiki.
Ia adalah ilmu yang lain dari yang lain.
- Orang yang merasa telah mendapatkannya boleh jadi telah kehilangannya pada masa yang sama.
- Orang yang mendakwa menguasainya dengan mahir bererti dia tidak dapat menguasainya.
- Orang yang mengaku mampu mengajarkannya adalah orang masih perlu belajar lagi tentangnya.
Nilai sebuah amal atau perbuatan ditentukan oleh seberapa tulus niat kita. Perbuatan yang dimaksudkan tentunya adalah yang termasuk ketaatan atau perkara yang dibolehkan dan bukan perkara-perkara yang dilarang. Tidak ada istilah ikhlas untuk perbuatan-perbuatan yang tergolong dalam kategori kemaksiatan.
Ketulusan niat hendaklah diukur sebelum, semasa dan selepas kita melaksanakan suatu amal. Kita semestinya perlu ikhlas pada ketiga-tiga tahap tersebut dan tidak hanya pada salah satunya.
PERTAMA : IKHLAS SEBELUM MELAKSANAKAN
Ia bererti kita berniat untuk melakukan suatu perbuatan demi Allah semata-mata dan bukan untuk memperolehi pujian, penghargaan ataupun balasan dari orang. Begitu juga ia bukan pula demi harta, jawatan ataupun kemasyhuran di khalayak ramai.
Ikhlas sebelum melaksanakan juga bererti berkehendak melakukan suatu perbuatan bukan kerana dorongan emosi negatif (seperti kemarahan) dari dalam diri atau kerana ingin memberi reaksi terhadap sesuatu situasi (seperti kerana di maki hamun).
KEDUA : IKHLAS SEMASA MELAKSANAKAN
Ia bererti kita membaguskan perbuatan kita hanya kerana rasa ingatan kita kepada Allah bukan kerana ingatan kita kepada manusia kerana kita sentiasa merasa diawasi oleh Allah bukan kerana merasa sedang diamati oleh manusia.
Selain itu, ia juga bererti tidak melaksanakan sesuatu dengan sikap bermalasan-malasan dan tidak mudah menyerah kalah, panik atau putus asa ketika bertemu dengan kesulitan atau halangan.
Dalam masa yang sama, jiwa kita sentiasa stabil tanpa membayangkan bagaimana kita akan dinilai, dipuji atau dihormati ketika nanti menyempurnakan perbuatan tersebut ataupun sebaliknya iaitu merasa resah membayangkan anggapan orang-orang yang nantinya akan meremehkan diri kita.
KETIGA : IKHLAS SELEPAS MELAKSANAKAN
Ia bererti kita tetap mengingati Allah di saat kita disanjung ataupun dicela, tidak sombong ketika dipuji dan tidak kesal semasa dimaki.
Kita menisbahkan kemampuan melaksanakan sesuatu itu kepada Allah dan kita tidak mengharapkan kemampuan kita sendiri dan menyerahkan hasil perbuatan kita kepada Allah dan tidak memandang bahwa hasilnya mesti seperti harapan atau kemahuan kita.
Selain itu, ia juga memberi makna bahwa kita tidak mengharapkan balasan, pujian ataupun ucapan terima kasih di samping tidak mengungkit-ngungkit perbuatan yang telah lalu dan tidak mempamirkan atau menyombongkannya kepada orang lain dan tidak mmbanggakannya dalam hati serta tidak tersinggung walaupun tidak disebut-sebut oleh orang.
SYARAT PENERIMAAN AMAL
Amal yang kita lakukan akan diterima oleh Allah jika memenuhi dua syarat :
PERTAMA :
PERTAMA :
Amal itu mesti berdasarkan kepada keikhlasan dan niat yang suci hanya mengharap keridhaan Allah swt.
KEDUA :
KEDUA :
Amal perbuatan yang kita lakukan itu mestilah sesuai dengan sunnah Nabi saw.
Syarat pertama menyangkut masalah batin. Niat ikhlas ertinya ketika melakukan amal perbuatan, batin kita mesti benar-benar bersih.
Rasulullah saw bersabda :
"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya." (HR Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadits itu, maka diterima atau tidaknya oleh Allah swt suatu amal perbuatan yang kita lakukan sangat bergantung kepada niat kita.
Sedangkan syarat yang kedua, mesti sesuai dengan syariat Islam dan syarat ini menyangkut sudut zahiriah.
Nabi saw bersabda :
"Barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah kami perintahkan, maka perbuatan itu ditolak." (HR Muslim)
Berkenaan dua syarat tersebut, Allah swt menerangkannya pada sejumlah ayat dalam Al Qur'an.
Di antaranya dua ayat berikut :
"Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kukuh…." (QS Luqman : 22)
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan…." (QS An-Nisa : 125)
Yang dimaksudkan dengan "menyerahkan diri kepada Allah" dalam dua ayat di atas adalah : ‘Mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya kerana Allah semata-mata.’
Sedangkan yang yang dimaksud dengan "mengerjakan kebaikan" dalam ayat tersebut ialah :
Syarat pertama menyangkut masalah batin. Niat ikhlas ertinya ketika melakukan amal perbuatan, batin kita mesti benar-benar bersih.
Rasulullah saw bersabda :
"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung kepada niatnya." (HR Bukhari dan Muslim)
Berdasarkan hadits itu, maka diterima atau tidaknya oleh Allah swt suatu amal perbuatan yang kita lakukan sangat bergantung kepada niat kita.
Sedangkan syarat yang kedua, mesti sesuai dengan syariat Islam dan syarat ini menyangkut sudut zahiriah.
Nabi saw bersabda :
"Barangsiapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang tidak pernah kami perintahkan, maka perbuatan itu ditolak." (HR Muslim)
Berkenaan dua syarat tersebut, Allah swt menerangkannya pada sejumlah ayat dalam Al Qur'an.
Di antaranya dua ayat berikut :
"Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kukuh…." (QS Luqman : 22)
"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan…." (QS An-Nisa : 125)
Yang dimaksudkan dengan "menyerahkan diri kepada Allah" dalam dua ayat di atas adalah : ‘Mengikhlaskan niat dan amal perbuatan hanya kerana Allah semata-mata.’
Sedangkan yang yang dimaksud dengan "mengerjakan kebaikan" dalam ayat tersebut ialah :
‘Mengerjakan kebaikan dengan serius dan sesuai dengan sunnah Rasulullah saw.’
Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surah Al-Mulk :
"Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya."
Menurutnya, maksud "yang lebih baik amalnya" adalah amal yang berdasarkan keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw.
Seseorang bertanya kepadanya, "Apa yang dimaksudkan dengan amal yang ikhlas dan benar itu?"
Fudhail menjawab :
"Sesungguhnya amal yang berlandaskan keikhlasan tetapi tidak benar, tidak akan diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak berlandaskan keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah swt. Amal perbuatan itu hanya boleh diterima oleh Allah jika berlandaskan keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar.
Yang dimaksudkan dengan `ikhlas' adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata kerana Allah dan yang dimaksudkan dengan `benar' adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw."
Setelah itu Fudhail bin Iyadh membacakan surah Al-Kahfi ayat 110 :
Fudhail bin Iyadh pernah memberi komentar tentang ayat 2 surah Al-Mulk :
"Supaya Allah menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya."
Menurutnya, maksud "yang lebih baik amalnya" adalah amal yang berdasarkan keikhlasan dan sesuai dengan sunnah Nabi saw.
Seseorang bertanya kepadanya, "Apa yang dimaksudkan dengan amal yang ikhlas dan benar itu?"
Fudhail menjawab :
"Sesungguhnya amal yang berlandaskan keikhlasan tetapi tidak benar, tidak akan diterima oleh Allah swt. Sebaliknya, amal yang benar tetapi tidak berlandaskan keikhlasan juga tidak diterima oleh Allah swt. Amal perbuatan itu hanya boleh diterima oleh Allah jika berlandaskan keikhlasan dan dilaksanakan dengan benar.
Yang dimaksudkan dengan `ikhlas' adalah amal perbuatan yang dikerjakan semata-mata kerana Allah dan yang dimaksudkan dengan `benar' adalah amal perbuatan itu sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw."
Setelah itu Fudhail bin Iyadh membacakan surah Al-Kahfi ayat 110 :
"Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya."
Jadi, niat yang ikhlas semata-mata belum menjamin amal kita diterima oleh Allah swt., jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan oleh syariat.
Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah swt.
LAPAN TANDA KEIKHLASAN
Ada lapan tanda-tanda keikhlasan yang boleh kita gunakan untuk menilai apakah perasaan ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita.
PERTAMA: KEIKHLASAN HADIR APABILA KITA TAKUT AKAN KEMASYHURAN (MENJADI TERKENAL)
Jadi, niat yang ikhlas semata-mata belum menjamin amal kita diterima oleh Allah swt., jika dilakukan tidak sesuai dengan apa yang digariskan oleh syariat.
Begitu juga dengan perbuatan mulia, tidak diterima jika dilakukan dengan tujuan tidak mencari keridhaan Allah swt.
LAPAN TANDA KEIKHLASAN
Ada lapan tanda-tanda keikhlasan yang boleh kita gunakan untuk menilai apakah perasaan ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita.
PERTAMA: KEIKHLASAN HADIR APABILA KITA TAKUT AKAN KEMASYHURAN (MENJADI TERKENAL)
Imam Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata :
"Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jawatan. Seseorang boleh menahan diri dari makanan, minuman dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari tarikan-tarikan kedudukan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun perlu mensabotaj kawan atau lawan."
Oleh kerana itu, tidak hairanlah jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai kemasyhuran, jawatan, dan riya'.
Fudhail bin Iyadh berkata :
"Jika kamu mampu untuk tidak dikenali oleh orang lain, maka laksanakanlah. Kamu tidak rugi sekiranya kamu tidak terkenal. Kamu juga tidak rugi sekiranya kamu tidak disanjung oleh orang lain. Demikian pula, janganlah gusar jika kamu menjadi orang yang tercela di mata manusia, namun menjadi manusia terpuji dan terhormat di sisi Allah."
Meskipun demikian, ucapan para ulama’ tersebut bukan untuk menyeru agar kita mengasingkan diri dari khalayak ramai (uzlah). Ucapan itu adalah peringatan agar dalam mengharungi kehidupan, kita tidak terjebak pada jerat hawa nafsu ingin mendapat pujian manusia.
Yang dilarang adalah :
a. Meminta nama kita dimasyhurkan atau dipopularkan.
b. Meminta jawatan.
c. Sikap rakus pada kedudukan.
Jika tanpa cita-cita dan tanpa meminta, diri kita menjadi terkenal, itu tidak mengapa meskipun itu boleh menjadi malapetaka bagi orang yang lemah dan tidak bersedia menghadapinya.
KEDUA : KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA MENGAKUI BAHWA DIRI KITA MEMPUNYAI BANYAK KEKURANGAN
Orang yang ikhlas sentiasa merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum sepenuhnya dalam melaksanakan segala kewajiban yang ditaklifkan oleh Allah swt.
Oleh kerana itu, ia tidak pernah merasa `ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia merasa cemas jika apa-apa yang dilakukannya tidak diterima oleh Allah swt dan oleh sebab itulah ia kerap menangis.
Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang maksud firman Allah :
"Dan orang-orang yang mengeluarkan rezeki yang dikurniakan kepada mereka, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka."
Apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, orang-orang yang berzina dan para peminum minuman keras, sedangkan mereka takut akan siksa dan murka Allah `Azza wa jalla?
Rasulullah saw menjawab :
"Bukan, wahai Puteri Abu Bakar. Mereka itu adalah orang-orang yang rajin solat, berpuasa dan sering bersedekah, sementara mereka khuatir amal mereka tidak diterima. Mereka bergegas dalam melaksanakan kebaikan dan mereka orang-orang yang berlumba." (HR Ahmad)
KETIGA : KEIKHLASAN HADIR KETIKA KITA LEBIH CENDERUNG UNTUK MENYEMBUNYIKAN AMAL KEBAJIKAN
Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui oleh orang lain.
"Sedikit sekali kita melihat orang yang tidak menyukai kedudukan dan jawatan. Seseorang boleh menahan diri dari makanan, minuman dan harta, namun ia tidak sanggup menahan diri dari tarikan-tarikan kedudukan. Bahkan, ia tidak segan-segan merebutnya meskipun perlu mensabotaj kawan atau lawan."
Oleh kerana itu, tidak hairanlah jika para ulama salaf banyak menulis buku tentang larangan mencintai kemasyhuran, jawatan, dan riya'.
Fudhail bin Iyadh berkata :
"Jika kamu mampu untuk tidak dikenali oleh orang lain, maka laksanakanlah. Kamu tidak rugi sekiranya kamu tidak terkenal. Kamu juga tidak rugi sekiranya kamu tidak disanjung oleh orang lain. Demikian pula, janganlah gusar jika kamu menjadi orang yang tercela di mata manusia, namun menjadi manusia terpuji dan terhormat di sisi Allah."
Meskipun demikian, ucapan para ulama’ tersebut bukan untuk menyeru agar kita mengasingkan diri dari khalayak ramai (uzlah). Ucapan itu adalah peringatan agar dalam mengharungi kehidupan, kita tidak terjebak pada jerat hawa nafsu ingin mendapat pujian manusia.
Yang dilarang adalah :
a. Meminta nama kita dimasyhurkan atau dipopularkan.
b. Meminta jawatan.
c. Sikap rakus pada kedudukan.
Jika tanpa cita-cita dan tanpa meminta, diri kita menjadi terkenal, itu tidak mengapa meskipun itu boleh menjadi malapetaka bagi orang yang lemah dan tidak bersedia menghadapinya.
KEDUA : KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA MENGAKUI BAHWA DIRI KITA MEMPUNYAI BANYAK KEKURANGAN
Orang yang ikhlas sentiasa merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum sepenuhnya dalam melaksanakan segala kewajiban yang ditaklifkan oleh Allah swt.
Oleh kerana itu, ia tidak pernah merasa `ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia merasa cemas jika apa-apa yang dilakukannya tidak diterima oleh Allah swt dan oleh sebab itulah ia kerap menangis.
Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang maksud firman Allah :
"Dan orang-orang yang mengeluarkan rezeki yang dikurniakan kepada mereka, sedang hati mereka takut bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka."
Apakah mereka itu orang-orang yang mencuri, orang-orang yang berzina dan para peminum minuman keras, sedangkan mereka takut akan siksa dan murka Allah `Azza wa jalla?
Rasulullah saw menjawab :
"Bukan, wahai Puteri Abu Bakar. Mereka itu adalah orang-orang yang rajin solat, berpuasa dan sering bersedekah, sementara mereka khuatir amal mereka tidak diterima. Mereka bergegas dalam melaksanakan kebaikan dan mereka orang-orang yang berlumba." (HR Ahmad)
KETIGA : KEIKHLASAN HADIR KETIKA KITA LEBIH CENDERUNG UNTUK MENYEMBUNYIKAN AMAL KEBAJIKAN
Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui oleh orang lain.
a. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup oleh tanah tapi menyokong kehidupan keseluruhan pohon tersebut.
b. Ibarat rumah, mereka adalah tapak asas yang dipenuhi tanah namun menyokong keseluruhan bangunan rumah tersebut.
Suatu hari Sayyidina Umar bin Al Khatthab pergi ke Masjid Nabawi. Ia mendapati Mu'az sedang menangis berhampiran makam Rasulullah saw.
Umar menegurnya :
Umar menegurnya :
"Mengapa kau menangis?"
Mu'az menjawab :
Mu'az menjawab :
"Aku telah mendengar hadits dari Rasulullah saw bahwa baginda bersabda :
"Riya' sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik dan barang siapa memusuhi kekasih-kekasih Allah maka ia telah menyatakan perang terhadap Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, taqwa serta tidak dikenali. Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenali. Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita." (HR Ibnu Majah dan Baihaqi)
KEEMPAT: KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA TIADA MASALAH DITEMPATKAN SEBAGAI PEMIMPIN ATAU PERAJURIT
Rasulullah saw melukiskan jenis orang seperti ini dengan bersabda :
"Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah sementara kepala dan tumitnya berdebu. Apabila ia bertugas menjaga benteng pertahanan, ia benar-benar menjaganya dan jika ia bertugas sebagai pemberi minuman, ia benar-benar melaksanakannya. "
Itulah yang berlaku kepada diri Khalid bin Al Walid ketika Khalifah Umar bin Al Khatthab memberhentikannya dari jawatan panglima perang. Khalid tidak marah, kecewa mahupun sakit hati kerana jawatannya diturunkan, bahkan ia tetap turut berperang di bawah komandan barunya iaitu Abu Ubaidah Al Jarrah.
Ketika ramai orang menimbulkan provokasi dan menanyakan beliau tentang perkara itu, Khalid menjawab dengan tenangnya bahwa, "Aku berperang kerana Allah, bukan kerana Umar". Subhanallah betapa tingginya tahap keikhlasan Khalid Al Walid.
KELIMA : KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA MENGUTAMAKAN KERIDHAAN ALLAH DARIPADA KERIDHAAN MANUSIA
"Riya' sekalipun hanya sedikit, ia termasuk syirik dan barang siapa memusuhi kekasih-kekasih Allah maka ia telah menyatakan perang terhadap Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang baik, taqwa serta tidak dikenali. Sekalipun mereka tidak ada, mereka tidak hilang dan sekalipun mereka ada, mereka tidak dikenali. Hati mereka bagaikan pelita yang menerangi petunjuk. Mereka keluar dari segala tempat yang gelap gulita." (HR Ibnu Majah dan Baihaqi)
KEEMPAT: KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA TIADA MASALAH DITEMPATKAN SEBAGAI PEMIMPIN ATAU PERAJURIT
Rasulullah saw melukiskan jenis orang seperti ini dengan bersabda :
"Beruntunglah seorang hamba yang memegang tali kendali kudanya di jalan Allah sementara kepala dan tumitnya berdebu. Apabila ia bertugas menjaga benteng pertahanan, ia benar-benar menjaganya dan jika ia bertugas sebagai pemberi minuman, ia benar-benar melaksanakannya. "
Itulah yang berlaku kepada diri Khalid bin Al Walid ketika Khalifah Umar bin Al Khatthab memberhentikannya dari jawatan panglima perang. Khalid tidak marah, kecewa mahupun sakit hati kerana jawatannya diturunkan, bahkan ia tetap turut berperang di bawah komandan barunya iaitu Abu Ubaidah Al Jarrah.
Ketika ramai orang menimbulkan provokasi dan menanyakan beliau tentang perkara itu, Khalid menjawab dengan tenangnya bahwa, "Aku berperang kerana Allah, bukan kerana Umar". Subhanallah betapa tingginya tahap keikhlasan Khalid Al Walid.
KELIMA : KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA MENGUTAMAKAN KERIDHAAN ALLAH DARIPADA KERIDHAAN MANUSIA
Tidak sedikit manusia yang hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Bila orang itu menuntun pada keridhaan Allah, sungguh kita sangat beruntung namun tidak jarang juga ketika orang itu menggunakan kekuasaannya untuk memaksa kita bermaksiat kepada Allah swt.
Di sinilah keikhlasan kita diuji samata :
Memilih keridhaan Allah swt ,atau Memilih keridhaan manusia yang mendominasi diri kita?
Pilihan kita semestinya seperti pilihan Masyithah, tukang sikat anak Fir'aun. Ia lebih memilih keridhaan Allah daripada menyembah Fir'aun.
KEENAM : KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA CINTA DAN MARAH KERANA ALLAH
Sesungguhnya kita dalam keadaan ikhlas ketika kita menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu kerana kecintaan kita kepada Allah dan keinginan membela agamaNya bukan untuk kepentingan peribadi kita.
Sebaliknya, Allah swt mencela orang yang berbuat bertentangan dengan sikap itu.
"Dan di antara mereka ada orang yang mencela tentang (pembahagian) zakat. Jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah." (QS At-Taubah : 58)
KETUJUH : KEIKHLASAN HADIR KETIKA KITA SABAR TERHADAP PANJANGNYA JALAN
Keikhlasan kita akan diuji oleh waktu. Sepanjang rentang waktu kehidupan kita adalah ujian.
Keteguhan kita untuk menegakkan kalimahNya di muka bumi meskipun kita tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesukaran sudah di depan mata, amat sangat diuji.
Hanya orang-orang yang mengharapkan keridhaan Allah yang mampu teguh menempuh jalan panjang ini seperti Nabi Nuh as yang giat berdakwah tanpa penat lelah selama 950 tahun.
Sepertimana Sayyidina Umar bin Al Khatthab yang berkata :
"Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku seorang di antaranya. Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku seorang di antaranya. Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku seorang di antaranya. Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!"
KELAPAN : KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA MERASA GEMBIRA JIKA KAWAN KITA MEMILIKI KELEBIHAN
Yang paling sukar adalah menerima orang lain yang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh kita. Lebih-lebih lagi jika orang itu lebih muda dari kita. Itulah sifat hasad dengki yang menutup keikhlasan dari hadir di relung hati kita.
Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mahu memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bahagian dari tanggungjawab yang dipikulnya.
Tanpa merasa apa-apa beban, ia mempersilakan orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil menggantikan dirinya. Tidak ada rasa irihati dan tiada rasa dendam. Jika ia seorang pemimpin, maka ia tiada segan-segan membahagikan tugas kepada sesiapapun yang dianggapnya mempunyai kemampuan.
Kita mesti banyak belajar tentang keikhlasan dan sebaik baik contoh keikhlasan adalah meneladani Rasulullah saw dan para sahabatnya.
Ada sebuah ungkapan yang menarik :
"Tentera hadapanmu adalah keikhlasan".
Ungkapan ini sangat tepat kerana memang keikhlasan adalah pengawal hadapan kita untuk menghadapi segala rintangan di jalan Allah. Keikhlasan membuatkan kita tidak kenal penat lelah dan tidak kenal berhenti dalam beramal kerana tujuan kita hanya satu, iaitu Allah swt.
Cuba kita perhatikan kembali ‘catatan amal’ kita dan kita perbetulkan lintasan hati atau getaran hati yang dapat menggugurkan nilai amal kita.
Mungkin kita pernah berfikir tentang kejayaan kita, kemudian berucap :
"Itu kerana kehebatan saya, apa jadinya tanpa diri saya?"
Bukankah ungkapan sedemikian senada dengan Fira'un yang menjadikan dirinya sombong hingga berani mengikrarkan dirinya sebagai tuhan atau juga kisah Qarun yang ditenggelamkan oleh Allah kerana merasa kehebatan dirinya dalam mengumpulkan harta kekayaannya.
"Kecewa!", Ya, kita sering kecewa jika tujuan kita menyimpang kepada yang sifatnya duniawi, maka ketika tujuan itu tidak tercapai, kita akan mudah kecewa dan berbalik ke belakang.
Bila sesuatu amal dibangunkan lantaran mengharapkan apa-apa yang ada pada manusia berupa :
1. Penghormatan.
2. Penghargaan.
3. Pengakuan kewujudan diri.
4. Kemasyhuran.
5. Jawatan.
6. Pengikut.
7. Pujian.
Maka hakikatnya, kita telah berubah menjadi hamba manusia, bukan lagi hamba Allah swt. Sekali lagi, kita mesti banyak belajar dan berlatih untuk mewujudkan keikhlasan dalam amal kita.
Selayaknya kita bangunkan prestasi amal kita kerana Allah swt semata-mata kerana amal yang dibangunkan selain keranaNya hanya akan meninggalkan buih-buih amal yang membuatkan kita kecewa di kemudian hari, Wal Iyazubillah.
Di sinilah keikhlasan kita diuji samata :
Memilih keridhaan Allah swt ,atau Memilih keridhaan manusia yang mendominasi diri kita?
Pilihan kita semestinya seperti pilihan Masyithah, tukang sikat anak Fir'aun. Ia lebih memilih keridhaan Allah daripada menyembah Fir'aun.
KEENAM : KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA CINTA DAN MARAH KERANA ALLAH
Sesungguhnya kita dalam keadaan ikhlas ketika kita menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu kerana kecintaan kita kepada Allah dan keinginan membela agamaNya bukan untuk kepentingan peribadi kita.
Sebaliknya, Allah swt mencela orang yang berbuat bertentangan dengan sikap itu.
"Dan di antara mereka ada orang yang mencela tentang (pembahagian) zakat. Jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah." (QS At-Taubah : 58)
KETUJUH : KEIKHLASAN HADIR KETIKA KITA SABAR TERHADAP PANJANGNYA JALAN
Keikhlasan kita akan diuji oleh waktu. Sepanjang rentang waktu kehidupan kita adalah ujian.
Keteguhan kita untuk menegakkan kalimahNya di muka bumi meskipun kita tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesukaran sudah di depan mata, amat sangat diuji.
Hanya orang-orang yang mengharapkan keridhaan Allah yang mampu teguh menempuh jalan panjang ini seperti Nabi Nuh as yang giat berdakwah tanpa penat lelah selama 950 tahun.
Sepertimana Sayyidina Umar bin Al Khatthab yang berkata :
"Jika ada seribu mujahid berjuang di medan juang, aku seorang di antaranya. Jika ada seratus mujahid berjuang di medan juang, aku seorang di antaranya. Jika ada sepuluh mujahid berjuang di medan juang, aku seorang di antaranya. Jika ada satu mujahid berjuang di medan juang, itulah aku!"
KELAPAN : KEIKHLASAN WUJUD KETIKA KITA MERASA GEMBIRA JIKA KAWAN KITA MEMILIKI KELEBIHAN
Yang paling sukar adalah menerima orang lain yang memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh kita. Lebih-lebih lagi jika orang itu lebih muda dari kita. Itulah sifat hasad dengki yang menutup keikhlasan dari hadir di relung hati kita.
Hanya orang yang ada sifat ikhlas dalam dirinya yang mahu memberi kesempatan kepada orang yang mempunyai kemampuan yang memadai untuk mengambil bahagian dari tanggungjawab yang dipikulnya.
Tanpa merasa apa-apa beban, ia mempersilakan orang yang lebih baik dari dirinya untuk tampil menggantikan dirinya. Tidak ada rasa irihati dan tiada rasa dendam. Jika ia seorang pemimpin, maka ia tiada segan-segan membahagikan tugas kepada sesiapapun yang dianggapnya mempunyai kemampuan.
Kita mesti banyak belajar tentang keikhlasan dan sebaik baik contoh keikhlasan adalah meneladani Rasulullah saw dan para sahabatnya.
Ada sebuah ungkapan yang menarik :
"Tentera hadapanmu adalah keikhlasan".
Ungkapan ini sangat tepat kerana memang keikhlasan adalah pengawal hadapan kita untuk menghadapi segala rintangan di jalan Allah. Keikhlasan membuatkan kita tidak kenal penat lelah dan tidak kenal berhenti dalam beramal kerana tujuan kita hanya satu, iaitu Allah swt.
Cuba kita perhatikan kembali ‘catatan amal’ kita dan kita perbetulkan lintasan hati atau getaran hati yang dapat menggugurkan nilai amal kita.
Mungkin kita pernah berfikir tentang kejayaan kita, kemudian berucap :
"Itu kerana kehebatan saya, apa jadinya tanpa diri saya?"
Bukankah ungkapan sedemikian senada dengan Fira'un yang menjadikan dirinya sombong hingga berani mengikrarkan dirinya sebagai tuhan atau juga kisah Qarun yang ditenggelamkan oleh Allah kerana merasa kehebatan dirinya dalam mengumpulkan harta kekayaannya.
"Kecewa!", Ya, kita sering kecewa jika tujuan kita menyimpang kepada yang sifatnya duniawi, maka ketika tujuan itu tidak tercapai, kita akan mudah kecewa dan berbalik ke belakang.
Bila sesuatu amal dibangunkan lantaran mengharapkan apa-apa yang ada pada manusia berupa :
1. Penghormatan.
2. Penghargaan.
3. Pengakuan kewujudan diri.
4. Kemasyhuran.
5. Jawatan.
6. Pengikut.
7. Pujian.
Maka hakikatnya, kita telah berubah menjadi hamba manusia, bukan lagi hamba Allah swt. Sekali lagi, kita mesti banyak belajar dan berlatih untuk mewujudkan keikhlasan dalam amal kita.
Selayaknya kita bangunkan prestasi amal kita kerana Allah swt semata-mata kerana amal yang dibangunkan selain keranaNya hanya akan meninggalkan buih-buih amal yang membuatkan kita kecewa di kemudian hari, Wal Iyazubillah.
Inilah sifat ikhlas yang di awalnya kita buat tanpa mengharapkan balasan kemudiannya kita pertingkatkan ke tahap yang lebih mendalam iaitu ikhlas tanpa batas yakni ikhlas dalam segala hal dan dalam segala perbuatan.
Ia adalah suatu ikhlas yang menjadi kesan dari tauhid iaitu ikhlas sebagai pemurnian hati dari segala syirik samada :
a. Dari syirik besar hingga syirik yang sekecil-kecilnya.
b. Dari syirik yang nyata hingga syirik yang samar-samar.
Akhir sekali hakikat keikhlasan yang sebenar akan membawa kepada kefahaman bahwa orang yang ikhlas :
1. Hanyalah bergantung kepada Allah.
2. Tidak menjadikan amalannya sebagai sandaran kemajuan kerohaniannya.
3. Hanyalah mendambakan wajah Allah.
4. Tidak menjadikan syurga sebagai pemacu semangat beramalnya.
Ya Allah, tiupkanlah perasaan ikhlas dalam hati dan jiwa kami sehingga ianya tetap kekal bersarang di dalam setiap amal yang kami lakukan. Sesungguhnya kami hanya mengharapkan segala amal kami diterima olehMu. Jauhkanlah diri kami dari mengharapkan sesuatu dari makhlukMu kerana sesungguhnya setiap makhlukMu adalah lemah dan hanya bergantung kepada kekuatan dan kekuasaan dariMu.
Ameen Ya Rabbal Alameen
Ameen Ya Rabbal Alameen
Minggu, 01 Juni 2014
Sabda Rasulullah SAW
Sabda Rasulullah SAW :1. "Dinikahi wanita kerana empat perkara, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikkannya dan karena agamanya. Maka carilah yg kuat beragama, niscaya kamu beruntung.”
2. "Salah satu tanda keberkahan wanita itu ialah pernikahannya, cepat kehamilannya dan ringan pula maharnya”.
3. “Wanita yg taat akan suaminya, semua burung-burung di udara, ikan di air, malaikat di langit, matahari dan bulan semuanya beristighfar baginya selama ia masih taat pada suaminya dan diridhaiNya.”
4. "wanita yg taat pada suaminya akan tertutup tujuh pintu neraka dan akan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana saja pintu yg disukainya, tanpa hisab”
5. “Apabila wanita yang bermuka masam menyebabkan tersinggung suaminya, maka wanita itu dimurkai Allah sehingga ia bermuka manis dan tersenyum mesra pada suaminya”.
Ada 2 ciri wanita yg tidak dapat mencium bau Surga;
1) Wanita yg durhaka kpd Ibunya
2) Wanita yg durhaka kpd Suaminya,
Wanita solehah merupakan penentram batin menjadi penguat semangat berjuang suami semangat ibadah suami. Suami yakin tak akan dikhianati kalau ditatap benar-benar menyejukkan qolbu kalau berbicara tutur kata menentramkan batin tak ada keraguan terhadap sikapnya. Pada prinsip wanita solehah adl wanita yg taat pada Allah taat pada Rasul. Kecantikan tak menjadikan fitnah pada orang lain.(Tausyiah Manajemen Qolbu Aa Gym)
Rasulullah SAW bersadba “Kebanyakkan isi neraka itu adalah wanita dan kayu api”.
1. Karena kebanyakan perempuan itu tidak sabar dalam menghadapi kesusahan, kesakitan dan cobaan seperti kesakitan melahirkan anak, mendidik anak anak dan melayani suami dan melakukan kerja rumah.
2. Tiada memuji ataupun berterima kasih (bersyukur) atas kemurahan Allah yg didatangkan melalui suaminya (jarang seorang wanita yang mau mengucapkan terima kasih atas pemberian suaminya)
Rasulullah pernah bersabda :
“ Perhatikanlah bagaimana sikapmu terhadapnya, sebab dia bisa menjadi (jalan menuju) syurgamu dan nerakamu” (HR. Ahmad dan Hakim)
Sabda Rasulullah SAW “Barang siapa seorang wanita yg memakai minyak wangi kemudian ia keluar melintasi kaum lelaki sehingga mereka mencium bau harumnya, maka dia adalah wanita penzina dan tiap-tiap mata yang memandangnya itu adalah zina
Langganan:
Postingan (Atom)





